Wednesday, 26 December 2012

Hiu Terlambat di Dunia

Study terbaru mengungkapkan bahwa hiu greenland adalah hiu dengan gerak paling lambat didunia. Kecepatan hiu tersebut hanya 2,73 km per jam. Dengan kecepatan itu, hiu paus juga merupakan ikan terlambat jika dibandingkan dengan tubuhnya.

Yuki Watanabe dari Nasional Institute of Polar Research di Tokyo penanda pengambil data hiu untuk mengetahui kecepatan dan frekuensi gerakan ekor pada enam hiu greenland. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan kecepatan dan frekuensi gerakan ekor ikan lain.


Berdasarkan pengukuran, rata-rata frekuensi gerakan hiu greenland adalah 9 siklus per menit. Perbandingan menunjukkan, rata-rata gerakan ekor dan gerakan ekor maksimum hiu greenland adalah yang terlambat. Demikian dengan kecepatan geraknya jika dibandingkan dengan hiu yang lain.

Gerakan ekor merefleksikan kecepatan kontraksi otot. Semakin rendah temperaturnya maka kecepatan kontraksi juga akan semakin lambat. Oleh karena itu, ilmuan juga menduga bahwa gerakan hiu greenland yang lambat dipengaruhi oleh rendahnya suhu lingkungan.

"Kami Berfikir bahwa lambatnya gerakan hiu greenland mungkin berkaitan dengan rendahnya temperatur laut Artik. Banyak proses fisiologi, termasuk kontraksi otot, melambat seiring dengan menurunnya temperatur." Ujar Yuki Watanabe.

Analisis terhadap perut hiu Greenland pernah dilakukan dalam penelitian lain sebelumnya. Peneliti menunjukkan bahwa di perut hiu terdapat banyak ikan, termasuk anjing laut segar. Bagaimana hiu bisa menelan anjing laut, hal itu masih misteri. 

Salah satu hipotesis, hiu mungkin memakan anjing laut yang sedang tidur. Anjing laut sering tidur dengan mengapung di permukaan laut. Dengan gerakan lambat dan mudah, hiu Greenland bisa memakan anjing laut yang tidur. 

Sebagai predator, ukuran hiu Greenland tak terlalu besar, hanya sepanjang 6 meter dan berat 997 kilogram. Paus pembunuh sangat mungkin memakan hiu Greenland. Jenis hiu itu memilih tinggal di laut dalam, tempat paus pembunuh jarang mampir. Studi ini dipublikasikan di Journal of Experimental Marine Biology and Ecology.




No comments:

Post a Comment